GUA BUTHO DIUSULKAN MASUK KE DALAM SITUS BUDAYA IJEN GEOPARK

Tim Disparpora bersama Cak Par dan Kang Kotip didampingi perangkat Desa Jirek Mas mengunjungi situs cagar budaya Gua Butho di Kecamatan Cermee. Gua Butho merupakan salah satu situs yang juga akan diusulkan masuk ke dalam situs budaya (cultural site) Ijen Geopark di wilayah Bondowoso. Lokasinya berjarak sekitar 45km dari pusat kota. Panorama ngarai dan perbukitan yang terbentang di sekitar lokasi sangat memukau. Lokasi Gua Butho terdapat di salah satu sisi tebingnya sehingga untuk mencapainya pengunjung harus berjalan menuruni lereng sekitar 500m dari tempat parkir kendaraan.

Gua Butho, Desa Jireg Mas Kec. Cermee

Dari bentuknya yang menyerupai ceruk dengan relief wajah Butho (dalam Bahasa Jawa berarti “raksasa”) dan adanya sumber air di sekitar lokasi tersebut menandakan tempat tersebut dulunya merupakan pemujaan dan pertapaan. Hal tersebut dibenarkan Pak Sukarman, Kepala Desa Jirek Mas, yang turut mendampingi, sembari menjelaskan masih terdapat masyarakat yang datang untuk memenuhi kebutuhan rohaninya.

Baca Juga: Pembahasan Kriteria Serta Penentuan Geosite, Biosite dan Culturesite di Geopark Ijen

Namun demikian saat ini lebih banyak yang datang untuk kebutuhan studi dan menikmati wisata sejarah.

Tidak jauh dari tempat tersebut, tim juga berkesempatan bertemu dengan Pak Adam, salah seorang seniman pahat batu yang berkarya di sekitar tebing Ampel. Karyanya yang banyak mengangkat keilahian dan penghambaan dengan tokoh pewayangan tampak serasi dengan pakaian serba putih yang dikenakannya saat itu.

Pak Adam memiliki kondisi kejiwaan khusus sehingga agak sulit untuk berkomunikasi dengan beliau. Meski begitu Pak Adam sangat terbuka dan ramah saat kami temui, bahkan beliau sempat menunjukkan alat pahat sederhananya dan caranya melakukan pahatan pada batuan paras di sekitar gubuk tempat tinggalnya.

Pak Adam menunjukkan hasil karyanya di lokasi Gua Butho

Bisa dibilang seni Pak Adam ini termasuk Art Brut / Raw Art, karena dorongan berkaryanya bebas dari dorongan duniawi, melainkan sekedar saluran pengejawantahan semesta dalam benaknya.

Pak Adam mengaku semua bentuk yang diwujudkannya sudah ada pada tiap-tiap batu, beliau hanya memahat mengikuti polanya. Dengan pengamatan awam, kita bisa dengan mudah terkecoh menganggap karya Pak Adam adalah karya seniman masa lampau.

Saksikan videonya di Channel Youtube Ngocak Travelling